Tugas Jaringan Komputer,
Nama :Gunawan
Nim    :085410205

1.Perbedaan Routing static dan rauting Dinamic
Routing statik
- Router tidak berbagi informasi routing..
- Jumlah gateway terbatas.
- Routing tabel dibuat manual.
Routing dinamik
- Router berbagi informasi routing secara otomatis
- Jumlah gateway sangat banyak.
- Routing tbael dibuat secara dinamik.
- Membutuhkan protokl routing seperti RIP atau OSPF

2.Penjelasan dan perbedaan Distance Vector dan Link State

DISTANCE VEKTOR
Distance
Distance adalah biaya untuk mencapai tujuan, biasanya didasarkan pada jumlah jalur host yang dilewati, atau total semua administrasi metrik yang ditugaskan pada link di jalur.
Vector
Dari sudut pandang routing protokol, vector adalah interface lalu lintas yang akan diteruskan keluar untuk mencapai sebuah tujuan yang diberikan   jaringan sepanjang rute atau jalur yang dipilih oleh protokol routing sebagai jalur terbaik ke tujuan jaringan.
Distance vector protokol menggunakan perhitungan jarak ditambah dengan jaringan intreface keluar (vector) untuk memilih jalur terbaik ke tujuan jaringan . Jaringan protokol (IPX, SPX, IP, Appletalk, DECnet dan lain-lain) akan meneruskan data menggunakan jalur terbaik yang dipilih.
Keuntungan dari Protokol Distance Vector
Protokol seperti RIP telah ada sejak lama dan paling banyak digunakan, namun tidak semua perangkat yang melakukan routing akan mengerti RIP.
LINK STATE
Protocol link state melacak status dan jenis koneksi masing-masing link dan menghasilkan metriks yang dihitung berdasarkan itu dan faktor-faktor lain, termasuk beberapa yang diset oleh administrator jaringan. Protokol link state mengetahui apakah link atas atau bawah dan berapa cepatnya dan menghitung biaya ‘untuk sampai ke sana’. Sejak router menjalankan routing protokol untuk mengetahui bagaimana untuk mencapai tujuan, Anda bisa memikirkan link state sebagai status interface pada router. Protokol link state akan mengambil jalur yang mempunya lebih banyak hop, tapi yang menggunakan media yang lebih cepat daripada jalur lambat yang menggunakan media dengan lebih sedikit hop.
Karena kesadaran mereka dari jenis media dan faktor lainnya, protocol link state memerlukan pengolahan daya lebih (logika sirkuit yang lebih dalam kasus ASICs) dan memori. Distance vector algoritma yang sederhana membutuhkan perangkat keras sederhana.
Perbedaan Link State dan Distance Vector
Lihat Gambar. 1-1 di bawah ini. Jika semua router yang menjalankan protokol link state, jalur atau ‘rute’ yang dipilih akan dari A B langsung melalui link serial ISDN, meskipun link tersebut sekitar 10 kali lebih lambat dari rute langsung dari A C D B.
Protokol Link State akan memilih jalur A B C D karena menggunakan media yang lebih cepat (100 Mb ethernet). Dalam contoh ini, akan lebih baik untuk menjalankan suatu routing protokol Link State, tetapi jika semua link di jaringan kecepatannya sama, maka protokol Distance Vector lebih baik.

3.Penjelasan
1. RIP -- menggunakan protokol routing interior dengan algoritma distance vector, 
2. IGRP -- menggunakan protokol routing interior dengan algoritma Cisco distance vector, 
3. OSPF -- menggunakan protokol routing interior dengan algoritma link state, 
4. EIGRP -- menggunakan protokol routing interior dengan algoritma advanced Cisco  distance vector.
5.BGP –(protocol routing eksterior dengan algoritma advan cisco distance vector)
            Routing Information Protocol (RIP)
Routed protocol digunakan untuk  user traffic  secara langsung. Routed protocol menyediakan informasi yang cukup dalam  layer address jaringannya untuk melewatkan paket yang akan diteruskandari satu  host  ke  host yang lain berdasarkan alamatnya. RIP merupakan salah satu protokol routing distance  vector yang digunakan oleh ribuan jaringan di dunia. Hal ini dikarenakan RIP berdasarkan open standard dan mudah diimplementasikan. Tetapi RIP membutuhkan
konsumsi daya yang tinggi dan memerlukan fitur router routing protokol. Dasar RIP diterangkan dalam RFC 1058, dengan karakteristik sebagai berikut: 
• Routing protokol distance vector, 
• Metric berdasarkan pada jumlah lompatan (hop count) untuk pemilihan jalur, 
• Jika hop count lebih dari 15, maka paket dibuang, 
• Update routing dilakukan secara broadcast setiap 30 detik. 
            1. RIP Versi 1
• Dokumen → RFC1058,
• RIP  → routing vektor-jarak yang dimodifikasi dengan  triggered update dan split horizon dengan     poisonous reverse untuk meningkatkan kinerjanya,
• RIP  → diperlukan supaya host dan router dapat bertukar informasi untuk menghitung rute dalam jaringan TCP/IP,
• Informasi yang dipertukarkan RIP berupa :
a. Host
b. Network
c. Subnet
d.  Rutedefault
            2. RIP Versi 2
• Enhancement dari RIP versi1 ditambah dengan  beberapa kemampuan baru,
• Algoritma routing sama dengan RIP versi1,
• Bedanya terletak pada format dengan tambahan informasi yang dikirim,
• Kemampuan baru :
a.  Tag →untuk rute eksternal,
b.  Subnet mask,
c.  Alamat hop berikutnya,
d.  Autentikasi.
             IGRP (Interior Gateway Routing Protocol)
IGRP merupakan  distance vector  IGP. Routing distance vector mengukur jarak secara matematik. Pengukuran ini dikenal dengan nama distance vector. Router yang menggunakan distance vector harusmengirimkan semua atau sebagian table routing dalam pesan  routing update dengan interval waktu yang regular ke semua router tetangganya. Isi dari informasi routing adalah: 
• Identifikasi tujuan baru, 
• Mempelajari apabila terjadi kegagalan. 
            IGRP adalah routing protokol distance vector yang dibuat oleh Cisco.
 IGRP
mengirimkan update routing setiap interval 90 detik. Update ini advertise semua jaringan dalam AS. Kunci desain jaringan IGRP adalah:
• Secara otomatis dapat menangani topologi yang komplek, 
• Kemampuan ke segmen dengan bandwidth dan delay yang berbeda, 
• Skalabilitas, untuk fungsi jaringan yang besar.
Secara default, IGRP menggunakan bandwidth dan delay sebagai metric. Untuk konfigurasi tambahan, IGRP dapat dikonfigurasi menggunakan kombinasi semua varibel atau yang disebut dengan composite metric. Variabel-variabel itu misalnya: 
• Bandwidth 
• Delay 
• Load
• Reliability 
             OSPF (Open Shortest Path First)
OSPF merupakan interior routing protocol yang kepanjangan dari  Open
Shortest Path First. OSPF didesain oleh IETF ( Internet Engineering Task Force )
yang pada mulanya dikembangkan dari algoritma SPF  ( Shortest Path First ).Hampir sama dengan IGRP yaitu pada tahun 80-an. Pada awalnya RIP adalah routing protokol yang umum  dipakai, namun
ternyata untuk AS yang besar, RIP sudah tidak memadai lagi. OSPF diturunkan dari beberapa periset seperti Bolt, Beranek, Newmans. Protokol ini bersifat open yang berarti dapat diadopsi oleh siapa pun. OSPF dipublikasikan pada RFC nomor 1247. OSPF menggunakan protokol routing link-state, dengan
karakteristik sebagai berikut: 
 EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
EIGRP menggunakan protokol routing enhanced distance vector, dengan karakteristik sebagai berikut: 
a. Menggunakan protokol routing enhanced distance vector. 
b. Menggunakan cost load balancing yang tidak sama. 
c. Menggunakan algoritma kombinasi antara distance vector dan link-state. 
d. Menggunakan  Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung jalur terpendek.
.BGP –(protocol routing eksterior dengan algoritma advan cisco distance vector)
a.Menggunakan routing protocol distance vector
b.Digunakan antara  ISp dengan ISP dan client client
c. Digunakan untuk merutekan trafik internet antar autonomous system
Routing Static                                                                         Routing Dinamic




 
                         








Routing  1
Router>enable
Router#configure terminal
Router(config)#hostname Sterling
Sterling(config)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Sterling#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Sterling#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Sterling(config)#interface FastEthernet0/0
Sterling(config-if)#no shutdown

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
Sterling(config-if)#
Sterling(config-if)#exit
Sterling(config)#interface FastEthernet0/1
Sterling(config-if)#no shutdown

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/1, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/1, changed state to up
Sterling(config-if)#ip address 172.16.1.1 255.255.255.0
Sterling(config-if)#exit
Sterling(config)#interface FastEthernet0/0
Sterling(config-if)#ip address 172.16.2.1 255.255.255.0
Sterling(config-if)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Hoboken#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Sterling#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Sterling(config)#ip route 172.16.3.0 255.255.255.0 172.16.2.2
Sterling(config)#ip route 172.16.5.0 255.255.255.0 172.16.2.2
Sterling(config)#ip route 172.16.5.0 255.255.255.0 172.16.4.2
Sterling(config)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Sterling#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Sterling#


====== Dinamik ===================
Sterling>enable
Sterling#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Sterling(config)#router rip
Sterling(config-router)#network 172.16.0.0
Sterling(config-router)#
Sterling(config-router)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Sterling#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Sterling#
================================================

Routing  2
Router>enable
Router#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname Hoboken
Hoboken(config)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Hoboken#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Hoboken#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Hoboken(config)#interface FastEthernet0/0
Hoboken(config-if)#no shutdown

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
Hoboken(config-if)#
Hoboken(config-if)#exit
Hoboken(config)#interface FastEthernet0/1
Hoboken(config-if)#no shutdown

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/1, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/1, changed state to up
Hoboken(config-if)#
Hoboken(config-if)#exit
Hoboken(config)#interface Ethernet0/1/0
Hoboken(config-if)#exit
Hoboken(config)#interface FastEthernet0/1
Hoboken(config-if)#ip address 172.16.2.2 255.255.255.0
Hoboken(config-if)#exit
Hoboken(config)#interface FastEthernet0/0
Hoboken(config-if)#ip address 172.16.4.1 255.255.255.0
Hoboken(config-if)#exit
Hoboken(config)#interface Ethernet0/1/0
Hoboken(config-if)#ip address 172.16.3.1 255.255.255.0
Hoboken(config-if)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Hoboken#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Hoboken#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Hoboken(config)#ip route 172.16.1.0 255.255.255.0 172.16.2.1
Hoboken(config)#ip route 172.16.5.0 255.255.255.0 172.16.4.2
Hoboken(config)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Hoboken#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Hoboken#

========== Dinamik ==========
Hoboken>enable
Hoboken#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Hoboken(config)#router rip
Hoboken(config-router)#network 172.16.0.0
Hoboken(config-router)#
Hoboken(config-router)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Hoboken#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Hoboken#
===============================

Routing 3
Router>enable
Router#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname Waycross
Waycross(config)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Waycross#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Waycross#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Waycross(config)#interface FastEthernet0/0
Waycross(config-if)#ip address 172.16.5.1 255.255.255.0
Waycross(config-if)#no shutdown

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up
Waycross(config-if)#exit
Waycross(config)#interface FastEthernet0/1
Waycross(config-if)#ip address 172.16.4.2 255.255.255.0
Waycross(config-if)#no shutdown

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/1, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/1, changed state to up
Waycross(config-if)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Waycross#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Waycross#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Waycross(config)#ip route 172.16.3.1 255.255.255.0 172.16.4.1
Waycross(config)#ip route 172.16.1.1 255.255.255.0 172.16.4.1
Waycross(config)#ip route 172.16.1.1 255.255.255.0 172.16.2.1
Waycross(config)#
Waycross(config)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Waycross#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Waycross#

=============== Dinamik ====================
Waycross>enable
Waycross#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Waycross(config)#router rip
Waycross(config-router)#network 172.16.0.0
Waycross(config-router)#
Waycross(config-router)#end
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Waycross#copy running-config startup-config
Destination filename [startup-config]?
Building configuration...
[OK]
Waycross#
=============================================


























































































MAKALAH JARINGAN KOMPUTER
IPV 4 DAN IPV6








Disusun Oleh :

GUNAWAN WIBISONO

No. Mhs : 085410205
Jurusan : Teknik Informatika
Jenjang : Strata Satu

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
AKAKOM
YOGYAKARTA
2011




Kata Pengantar



Puji syukur atas segala karunia Allah, karena akhirnya makalah tentang IP versi 4 dan versi IP 6 ini dapat terselesaikan.Bergerak di dunia Teknologi Informasi dan Komputer berarti senantiasa mendapat tantangan untuk belajar dan beradaptasi dengan dunia baru yang bergerak sangat cepat
dalam satuan waktu yang granularitasnya sangat tinggi. Harapan untuk mewujudkan mimpi baru selalu ada. Perubahan dalam teknologi perangkat lunak dan infrastruktur perangkat keras bersinergi sehingga kita melihat perkembangan alat yang semula besar, menjadi sangat kecil, dan terdistribusi. Sistem yang dulunya menggunakan lokasi yang luas (misalnya data center),
Revolusi Teknologi Informasi dan Komputer yang terjadi terus berjalan, walaupun
perkembangannya dapat dianalogikan dengan terciptanya jalan raya yang digunakan untuk kendaraan. Namun semuanya membuat kita semakin sadar pada kekuasaan Allah yang membuat    semesta alam luas berjalan dengan teraturnya.
Sumber inspirasi manusia dalam menciptakan teknologi baru yang dapat digunakan untuk kemudahan dalam menjalani hidup, tetap berasal dari segala sesuatu yang diinspirasi
oleh komputasi biologis dan komputasi yang meniru apa yang terjadi di alam. Saya mengucapkan terima kasih pada Dosen Bp. Siget,
saya sadar bahwa manusia hanya dapat terus berusaha menjadi lebih baik.    Duhai ... Yang Maha Segala, lindungilah kami, rahmatilah, berkahilah dan berilah kekuatan untuk terus dapat   menjalankan tugas menjadi setetes air di samudra ilmu‐Mu. Berikanlah makna bagi pendidikan yang berkualitas yang kami impikan dapat kami lalukan untuk mewarnai lahirnya generasi baru yang lebih baik dari generasi sebelumnya.


Yogyakarta, 7 Desember 2011





Gunawan














Daftar Isi

Latar belakang....................................................................................................................................4
Mengenal Konsep Dasar IP Adreeas...............................................................................................5
Habisnya Aalamat Internet IPV 4....................................................................................................9
Perbedaaan antara IPV 4 dan IPV 6........................................... ...................................................10
Perbandingan IPv4 dan IPv6 ..........................................................................................................11
Perubahan IPV 4 ke IPV 6...............................................................................................................12
Kesimpulan dan Saran.......................................................................................... ...14














































BAB I
LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi informasi menjadi wujud timbulnya berbagai bentuk pemakaian jaringan internet yang bertujuan untuk mempermudah hubungan atau pemindahan suatu data dari komputer yang satu dengan komputer yang lain walau dengan jarak yang jauh sekalipun. Penggunaan sistem jaringan internet pada perusahaan merupakan suatu hal yang penting, salah satunya adalah untuk mempercepat distribusi informasi. Seiring timbulnya berbagai bentuk tempat-tempat Game Station yang On-line ke internet langsung yang mana semua kebutuhan akan jaringan internet semakin meningkat.
Maka mulailah disadari bahwa internet tumbuh ke seluruh dunia dengan pesat, hampir semua atau dapat dikatakan semua user internet saat ini menggunakan internet protokol versi 4 (IPv4), dimana saat ini umur IPv4 sudah mendekati dua puluh tahun. IPv4 telah terbukti tangguh selama ini, namun terdapat masalah terhadap IPv4 ini terutama pada pengalokasian IP tersebut. Sehubungan dengan semakin berkurangnya alamat IPv4 yang tersedia, maka dibutuhkan mekanisme baru untuk ditambahkan ke internet. dimana pada saat itu juga orang-orang mulai menyadari cepat atau lambat alamat IPv4 yang sebesar 32 bit akan semakin terbatas dan sulit didapatkan pada masa-masa mendatang. Alasan utama untuk mulai beralih ke IPv6 adalah terbatasnya ruang pengalamatan, IPv6 memperbaiki sejumlah masalah dalam IPv4, seperti keterbatasan alokasi alamat IP yang tersedia dalam IPv4, IPv6 juga menambahkan sejumlah perkembangan dari IPv4 seperti masalah routing dan autokonfigurasi jaringan. IPv6 diharapkan secara bertahap menggantikan IPv4, dengan adanya dua jenis IP (IPv4 dan IPv6) beberapa tahun selama periode transisi. pada masa sekarang ini bukan hanya komputer saja yang terhubung dengan internet namun peralatan sehari-hari seperti telepon selular, PDA, dan sebagainya juga terhubung ke internet.


BAB II

PEMBAHASAN

MENGENAL KONSEP DASAR IP ADDRESS



Walaupun bagi para pengguna Internet umumnya kita hanya perlu mengenal hostname dari mesin yang dituju bukan ip address, seperti:syamsy.com,server.indo.net.id, rad.net.id, ui.ac.id, itb.ac.id. Bagi komputer untuk bekerja langsung menggunakan informasi tersebut akan relatif lebih sulit karena tidak ada keteraturan yang dapat di programkan dengan mudah. Untuk mengatasi hal tersebut, komputer mengidentifikasi alamat setiap komputer menggunakan sekumpulan angka sebanyak 32 bit yang dikenal sebagai IP address.
Adanya IP Address merupakan konsekuensi dari penerapan Internet Protocol untuk mengintegrasikan jaringan komputer Internet di dunia. Seluruh host (komputer) yang terhubung ke Internet dan ingin berkomunikasi memakai TCP/IP harus memiliki IP Address sebagai alat pengenal host pada network. Secara logika, Internet merupakan suatu network besar yang terdiri dari berbagai sub network yang terintegrasi. Oleh karena itu, suatu IP Address harus bersifat unik untuk seluruh dunia. Tidak boleh ada satu IP Address yang sama dipakai oleh dua host yang berbeda. Untuk itu, penggunaan IP Address di seluruh dunia dikoordinasi oleh lembaga sentral Internet yang di kenal dengan IANA – salah satunya adalah Network Information Center (NIC) yang menjadi koordinator utama di dunia untuk urusan alokasi IP Address ini adalah :
InterNIC Registration Services Network Solution Incorporated 505 Huntmar Park Drive, Herndon, Virginia 22070 Tel: [800] 444-4345, [703] 742-4777 FAX: [703] 742-4811 E-mail: hostmaster@internic.net
Sedangkan untuk tingkat Asia Pasifik saat ini masih dikoordinasi oleh:
Asia Pacific Network Information Center c/o Internet Initiative Japan, Inc. Sanbancho Annex Bldg., 1-4, Sanban-cho, Chiyoda-ku, Tokyo, 102 Japan Tel: +81-3-5276-3973 FAX: +81-3-5276-6239 E-mail: domreg@apnic.net http://www.apnic.net
Struktur IP Address
IP Address terdiri dari bilangan biner sepanjang 32 bit yang dibagi atas 4 segmen. Tiap segmen terdiri atas 8 bit yang berarti memiliki nilai desimal dari 0 – 255. Range address yang bisa digunakan adalah dari 00000000.00000000.00000000.00000000 sampai dengan 11111111.11111111.11111111.11111111. Jadi, ada sebanyak 232 kombinasi address yang bisa dipakai diseluruh dunia (walaupun pada kenyataannya ada sejumlah IP Address yang digunakan untuk keperluan khusus). Jadi, jaringan TCP/IP dengan 32 bit address ini mampu menampung sebanyak 232 atau lebih dari 4 milyar host. Untuk memudahkan pembacaan dan penulisan, IP Address biasanya direpresentasikan dalam bilangan desimal. Jadi, range address di atas dapat diubah menjadi address 0.0.0.0 sampai address 255.255.255.255. Nilai desimal dari IP Address inilah yang dikenal dalam pemakaian sehari-hari. Beberapa contoh IP Address adalah :
44.132.1.20
167.205.9.35
202.152.1.250


IP Address dapat dipisahkan menjadi 2 bagian, yakni bagian network (bit-bit network/network bit) dan bagian host (bit-bit host/host bit). Bit network berperan dalam identifikasi suatu network dari network yang lain, sedangkan bit host berperan dalam identifikasi host dalam suatu network. Jadi, seluruh host yang tersambung dalam jaringan yang sama memiliki bit network yang sama. Sebagian dari bit-bit bagian awal dari IP Address merupakan network bit/network number, sedangkan sisanya untuk host. Garis pemisah antara bagian network dan host tidak tetap, bergantung kepada kelas network.
Ada 3 kelas address yang utama dalam TCP/IP, yakni kelas A, kelas B dan kelas C.


Protocol menentukan pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari IP Address. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut : ·
  • Jika bit pertama dari IP Address adalah 0, address merupakan network kelas A. Bit ini dan 7 bit berikutnya (8 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 24 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian hanya ada 128 network kelas A, yakni dari nomor 0.xxx.xxx.xxx sampai 127.xxx.xxx.xxx, tetapi setiap network dapat menampung lebih dari 16 juta (2563) host (xxx adalah variabel, nilainya dari 0 s/d 255).
Struktur IP Address Kelas A
  • Jika 2 bit pertama dari IP Address adalah 10, address merupakan network kelas B. Dua bit ini dan 14 bit berikutnya (16 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 16 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 16 ribu network kelas B (64 x 256), yakni dari network 128.0.xxx.xxx – 191.255.xxx.xxx. Setiap network kelas B mampu menampung lebih dari 65 ribu host (2562). Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar 3 berikut.

ip address
. Struktur IP Address Kelas B
  • Jika 3 bit pertama dari IP Address adalah 110, address merupakan network kelas C. Tiga bit ini dan 21 bit berikutnya (24 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 8 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 2 juta network kelas C (32 x 256 x 256), yakni dari nomor 192.0.0.xxx sampai 223.255.255.xxx. Setiap network kelas C hanya mampu menampung sekitar 256 host.
. Struktur IP Address Kelas C
Selain ke tiga kelas di atas, ada 2 kelas lagi yang ditujukan untuk pemakaian khusus, yakni kelas D dan kelas E. Jika 4 bit pertama adalah 1110, IP Address merupakan kelas D yang digunakan untuk multicast address, yakni sejumlah komputer yang memakai bersama suatu aplikasi (bedakan dengan pengertian network address yang mengacu kepada sejumlah komputer yang memakai bersama suatu network). Salah satu penggunaan multicast address yang sedang berkembang saat ini di Internet adalah untuk aplikasi real-time video conference yang melibatkan lebih dari dua host (multipoint), menggunakan Multicast Backbone (MBone). Kelas terakhir adalah kelas E (4 bit pertama adalah 1111 atau sisa dari seluruh kelas). Pemakaiannya dicadangkan untuk kegiatan eksperimental.
Jenis kelas address yang diberikan oleh kooordinator IP Address bergantung kepada kebutuhan instansi yang meminta, yakni jumlah host yang akan diintegrasikan dalam network dan rencana pengembangan untuk beberapa tahun mendatang. Untuk perusahaan, kantor pemerintah atau universitas besar yang memiliki puluhan ribu komputer dan sangat berpotensi untuk tumbuh menjadi jutaan komputer, koordinator IP Address akan mempertimbangkan untuk memberikan kelas A. Contoh IP Address kelas A yang dipakai di Internet adalah untuk amatir paket radio seluruh dunia, mendapat IP nomor 44.xxx.xxx.xxx. Untuk kelas B, contohnya adalah nomor 167.205.xxx.xxx yang dialokasikan untuk ITB dan jaringan yang terkait ke ITB dibawah koordinator Onno W. Purbo.








Address Khusus
Selain address yang dipergunakan untuk pengenal host, ada beberapa jenis address yang digunakan untuk keperluan khusus dan tidak boleh digunakan untuk pengenal host. Address tersebut adalah :
  • Network AddressAddress ini digunakan untuk mengenali suatu network pada jaringan Internet. Misalkan untuk host dengan IP Address kelas B 167.205.9.35. Tanpa memakai subnet, network address dari host ini adalah 167.205.0.0. Address ini didapat dengan membuat seluruh bit host pada 2 segmen terakhir menjadi 0. Tujuannya adalah untuk menyederhanakan informasi routing pada Internet. Router cukup melihat network address (167.205) untuk menentukan kemana paket tersebut harus dikirimkan. Contoh untuk kelas C, network address untuk IP address 202.152.1.250 adalah 202.152.1.0. Analogi yang baik untuk menjelaskan fungsi network address ini adalah dalam pengolahan surat pada kantor pos. Petugas penyortir surat pada kantor pos cukup melihat kota tujuan pada alamat surat (tidak perlu membaca seluruh alamat) untuk menentukan jalur mana yang harus ditempuh surat tersebut. Pekerjaan “routing” surat-surat menjadi lebih cepat. Demikian juga halnya dengan router di Internet pada saat melakukan routing atas paket-paket data.
  • Broadcast AddressAddress ini digunakan untuk mengirim/menerima informasi yang harus diketahui oleh seluruh host yang ada pada suatu network. Seperti diketahui, setiap paket IP memiliki header alamat tujuan berupa IP Address dari host yang akan dituju oleh paket tersebut. Dengan adanya alamat ini, maka hanya host tujuan saja yang memproses paket tersebut, sedangkan host lain akan mengabaikannya. Bagaimana jika suatu host ingin mengirim paket kepada seluruh host yang ada pada networknya ? Tidak efisien jika ia harus membuat replikasi paket sebanyak jumlah host tujuan. Pemakaian bandwidth akan meningkat dan beban kerja host pengirim bertambah, padahal isi paket-paket tersebut sama. Oleh karena itu, dibuat konsep broadcast address. Host cukup mengirim ke alamat broadcast, maka seluruh host yang ada pada network akan menerima paket tersebut. Konsekuensinya, seluruh host pada network yang sama harus memiliki address broadcast yang sama dan address tersebut tidak boleh digunakan sebagai IP Address untuk host tertentu. Jadi, sebenarnya setiap host memiliki 2 address untuk menerima paket : pertama adalah IP Addressnya yang bersifat unik dan kedua adalah broadcast address pada network tempat host tersebut berada. Address broadcast diperoleh dengan membuat seluruh bit host pada IP Address menjadi 1. Jadi, untuk host dengan IP address 167.205.9.35 atau 167.205.240.2, broadcast addressnya adalah 167.205.255.255 (2 segmen terakhir dari IP Address tersebut dibuat berharga 11111111.11111111, sehingga secara desimal terbaca 255.255). Jenis informasi yang dibroadcast biasanya adalah informasi routing.
  • Netmask
    Adalah address yang digunakan untuk melakukan masking / filter pada proses pembentukan routing supaya kita cukup memperhatikan beberapa bit saja dari total 32 bit IP Address. Artinya dengan menggunakan netmask tidak perlu kita memperhatikan seluruh (32 bit) IP address untuk menentukan routing, akan tetapi cukup beberapa buah saja dari IP address yg kita perlu perhatikan untuk menentukan kemana packet tersebut dikirim.
Kaitan antara host address, network address, broadcast address & network mask sangat erat sekali – semua dapat dihitung dengan mudah jika kita cukup paham mengenai bilangan Biner. Jika kita ingin secara serius mengoperasikan sebuah jaringan komputer menggunakan teknologi TCP/IP & Internet, adalah mutlak bagi kita untuk menguasai konsep IP address tersebut. Konsep IP address sangat penting artinya bagi routing jaringan Internet. Kemampuan untuk membagi jaringan dalam subnet IP address penting artinya untuk memperoleh routing yang sangat effisien & tidak membebani router-router yang ada di Internet. Mudah-mudahan tulisan awal ini dapat membuka sedikit tentang teknologi / konsep yang ada di dalam Internet.








Sumber : Aulia K. Arif & Onno W. Purbo
Sekian Nukilan tentang konsep dasar ip address dan semoga bermanfaat
Other articles you might like :
































Alamat Internet akan habis dalam beberapa minggu, menurut salah satu penemu Internet hari Jumat (21 januari 2011) lalu.
Alamat Internet yang dimaksud adalah alamat protokol Internet (IP Address). Vint Cerf, yang turut mendesain alamat protokol Internet tersebut, mengatakan kalau Internet saat ini hanya dapat menampung 4,3 miliar alamat. Cerf menyebutkan kalau alamat ini akan terpakai seluruhnya dalam beberapa minggu ke depan.
Cerf mengakui kalau pada saat mendesain alamat internet protokol, ia tidak menyangka jumlah 4,3 miliar tidak cukup. “Ini ‘kesalahan’ kami, para pendesain. Kami pikir Internet adalah sebuah eksperimen dan untuk eksperimen kami kira jumlah 4,3 miliar saja sudah cukup.” kata Cerf yang juga wakil presiden Google dalam sebuah wawancara.
Cerf membuat protokol IPv4, versi protokol yang sekarang ini menghubungkan komputer-komputer ke Internet di seluruh dunia, pada tahun 1977 sebagai bagian dari sebuah eksperimen saat bekerja untuk Department of Defense. Pada tahun 1981, IPv4 beroperasi penuh.
Alamat protokol Internet berupa urutan angka-angka. Angka-angka itu unik pada setiap komputer atau perangkat lain–termasuk ponsel dan perangkat bergerak lainnya–yang terhubung ke internet. Peningkatan jumlah perangkat yang terhubung ke Internet inilah yang menyebabkan percepatan habisnya alamat protokol. Bukan hanya komputer dan ponsel, televisi yang terhubung ke Internet pun mulai tersedia di beberapa negara.
Alamat protokol Internet ini berbeda dengan alamat situs web. Alamat situs web dikenal dengan “nama domain”.
Untuk mengatasi krisis ini, protokol baru IPv6 sedang dipersiapkan. Alamat IP baru ini dapat menciptakan triliunan alamat internet. Saat ini, IPv6 sudah dapat bekerja di semua sistem operasi besar meskipun belum seluas IPv4.
(Sumber: Discovery News)



















PERBEDAAN ANTARA IPV4 DAN IPV6



IP Address adalah sekumpulan bilangan biner sepanjang 32 bit, yang dibagi atas 4 segmen dan setiap segmennya terdiri dari 8 bit.
Perbedaan yang terdapat pada IPv4 dan IPv6 umumnya adalah perbedaan jumlah bit-nya.
Pada IPv4 juga dijelaskan tentang kelas-kelas IP dari kelas A sampai E.
Didalam penulisan IPv6 kita akan mempelajari format penulisannya terlebih dahulu.
Ada 3 cara penulisan pada IPv6 :
1. Prefered, cara formal atau standar
2. Compressed, cara kompresi atau penyingkatan
3. Mixed, cara gabungan
Setelah kita mengenal kedua versi IP tersebut, sekarang mari kita lihat perbedaan yang ada pada keduanya
Perbedaan antara IP Versi 4 (IPv4) dan IP Versi 6 (IPv6):
1. IP Versi 4 memiliki panjang 32 bit (jumlah total alamat yang dapat dicapainya mencapai 4.294.967.296 alamat), sedangkan untuk IP Versi 6 memiliki panjang 128 bit.
2. IPv4 menggunkan static address dan dynamic address dalam media pengalamatannya, sedangkan IPv6 menggunakan stateful address configuration dan stateless address configuration.
3. IPv4 mendukung representasi alamat menggunkan subnet mask, sedangkan IPv6 tidak mendukung subnet mask.
4. IPv4 menggunakan dotted-decimal format, sedangkan IPv6 menggunakan colon-hexadecimal format.
Other articles you might like :




Dasar IPv6 : Perbandingan IPv4 dan IPv6


Beberapa perbandingan utama IPv4 dan IPv6 :
IPv4
IPv6
Panjang
alamat 32 bit (4 bytes)
Panjang
alamat 128 bit (16 bytes)
Dikonfigurasi
secara manual atau DHCP IPv4
Tidak
harus dikonfigurasi secara manual, bisa menggunakan address autoconfiguration.
Dukungan
terhadap IPSec opsional
Dukungan
terhadap IPSec dibutuhkan
Fragmentasi
dilakukan oleh pengirim dan pada router, menurunkan kinerja router.
Fragmentasi
dilakukan hanya oleh pengirim.
Tidak
mensyaratkan ukuran paket pada link-layer dan harus bisa menyusun kembali
paket berukuran 576 byte.
Paket
link-layer harus mendukung ukuran paket 1280 byte dan harus bisa menyusun
kembali paket berukuran 1500 byte
Checksum
termasuk pada header.
Cheksum
tidak masuk dalam header.
Header
mengandung option.
Data
opsional dimasukkan seluruhnya ke dalam extensions
header
.
Menggunakan
ARP Request secara broadcast untuk menterjemahkan alamat IPv4 ke alamat
link-layer.
ARP
Request telah digantikan oleh Neighbor Solitcitation secara multicast.
Untuk
mengelola keanggotaan grup pada subnet lokal digunakan Internet Group
Management Protocol (IGMP).
IGMP
telah digantikan fungsinya oleh Multicast Listener Discovery (MLD).





Perubahan dari IPv4 ke Ipv6

Perubahan dari IPv4 ke IPv6 pada dasarnya terjadi karena beberapa hal yang dikelompokkan dalam kategori berikut :

1. Kapasitas Perluasan Alamat
IPv6 meningkatkan ukuran dan jumlah alamat yang mampu didukung oleh IPv4 dari 32 bit menjadi 128bit. Peningkatan kapasitas alamat ini digunakan untuk mendukung peningkatan hirarki atau kelompok pengalamatan, peningkatan jumlah atau kapasitas alamat yang dapat dialokasikan dan diberikan pada node dan mempermudah konfigurasi alamat pada node sehingga dapat dilakukan secara
otomatis. Peningkatan skalabilitas juga dilakukan pada routing multicast dengan meningkatkan cakupan dan jumlah pada alamat multicast. IPv6 ini selain meningkatkan jumlah kapasitas alamat yang dapat dialokasikan pada node juga
mengenalkan jenis atau tipe alamat baru, yaitu alamat anycast. Tipe alamat
anycast ini didefinisikan dan digunakan untuk mengirimkan paket ke salah satu
dari kumpulan node.

  1. Penyederhanaan Format Header
Beberapa kolom pada header IPv4 telah dihilangkan atau dapat dibuat sebagai header pilihan. Hal ini digunakan untuk mengurangi biaya pemrosesan hal-hal yang umum pada penanganan paket IPv6 dan membatasi biaya bandwidth
pada header IPv6. Dengan demikian, pemerosesan header pada paket IPv6 dapat
dilakukan secara efisien.

  1. Option dan Extension Header
Perubahan yang terjadi pada header-header IP yaitu dengan adanya pengkodean header Options (pilihan) pada IP dimasukkan agar lebih efisien dalam penerusan paket (packet forwarding), agar tidak terlalu ketat dalam pembatasan panjang header pilihan yang terdapat dalam paket IPv6 dan sangat
fleksibel/dimungkinkan untuk mengenalkan header pilihan baru pada masa akan
datang.

  1. Kemampuan Pelabelan Aliran Paket
Kemampuan atau fitur baru ditambahkan pada IPv6 ini adalah memungkinkan pelabelan paket atau pengklasifikasikan paket yang meminta penanganan khusus, seperti kualitas mutu layanan tertentu (QoS) atau real-time.
  1. Autentifikasi dan Kemampuan Privasi
Kemampuan tambahan untuk mendukung autentifikasi, integritas data dan data penting juga dispesifikasikan dalam alamat IPv6. Perubahan terbesar pada IPv6 adalah perluasan IP address dari 32 bit pada IPv4 menjadi 128 bit.128 bit ini adalah ruang address yang kontinyu dengan menghilangkan konsep kelas. Selain itu juga dilakukan perubahan pada cara penulisan IP address. Jika pada IPv4 32 bit
dibagi menjadi masing-masing 8 bit yang dipisah kan dengan "." dan di tuliskan dengan angka desimal, maka pada IPv6, 128 bit tersebut dipisahkan menjadi masing-masing 16 bit yang tiap bagian dipisahkan dengan ":"dan dituliskan
dengan hexadesimal. Selain itu diperkenalkan pula struktur bertingkat agar
pengelolaan routing menjadi mudah. Pada CIDR (Classless Interdomain Routing)
table routing diperkecil dengan menggabungkan jadi satu informasi routing dari
sebuah organisasi.

    Transisi IPv6
Untuk mengatasi kendala perbedaan antara IPv4 dan IPv6 serta menjamin
terselenggaranya komunikasi antara pengguna IPv4 dan pengguna IPv6, maka
dibuat suatu metode Hosts – dual stack serta Networks – Tunneling pada
perangkat jaringan, misalnya router dan server.
Jadi setiap router menerima suatu paket, maka router akan memilah paket
tersebut untuk menentukan protokol yang digunakan, kemudian router tersebut
akan meneruskan ke layer diatasnya.






























BAB III

Kesimpulan & Saran

IPv4 yang merupakan pondasi dari Internet telah hampir mendekati batas akhir dari
kemampuannya, dan IPv6 yang merupakan protokol baru telah dirancang untuk dapat
menggantikan fungsi IPv4. Motivasi utama untuk mengganti IPv4 adalah karena keterbatasan dari
panjang addressnya yang hanya 32 bit saja serta tidak mampu mendukung kebutuhan akan
komunikasi yang aman, routing yang fleksibel maupun pengaturan lalu lintas data.
IPv6 yang memiliki kapasitas address raksasa (128 bit), mendukung penyusunan address secara
terstruktur, yang memungkinkan Internet terus berkembang dan menyediakan kemampuan routing
baru yang tidak terdapat pada IPv4. IPv6 memiliki tipe address anycast yang dapat digunakan
untuk pemilihan route secara efisien. Selain itu IPv6 juga dilengkapi oleh mekanisme penggunaan
address secara local yang memungkinkan terwujudnya instalasi secara Plug&Play, serta
menyediakan platform bagi cara baru pemakaian Internet, seperti dukungan terhadap aliran data
secara real-time, pemilihan provider, mobilitas host, end-to-end security, ataupun konfigurasi
otomatis.
Untuk informasi mengenai IPv6, kami sarankan anda untuk mengakses situs 6BONE
(http://www.6bone.net), pada situs ini anda bisa mendapatkan informasi mengenai status dan hasil
riset dari berbagai partisipan yang tergabung di 6BONE ini.
Selain itu anda bisa mendapatkan informasi mengenai IPv6 dengan mengunjungi situs berikut ini:
  • http://www.6ren.net
  • http://www.6tap.net
  • http://www.ipv6.org
  • http://www.ipv6forum.com
Selain itu, anda bisa mendapatkan informasi tentang IPv6 melalui RFC (Request for Comment),
sebagai berikut:
• RFC 2374, an IPv6 Aggregatable Global Unicast Address Format
• RFC 2373, IPv6 Addressing Architecture
• RFC 2460, IPv6 Specification
• RFC 2461, Neighbor Discovery for IPv6
• RFC 2462, IPv6 Stateless Address Autoconfiguration
• RFC 2463, Internet Control Message Protocol (ICMPv6) for the IPv6 Specification
• RFC 1886, DNS Extensions to support IPv6
• RFC 1887, An Architecture for IPv6 Unicast Address Allocation
• RFC 1981, Path MTU Discovery for IP version 6
• RFC 2023, IP version 6 over PPP
• RFC 2080, RIPng for IPv6
• RFC 2452, IP version 6 Management Information Base for the User Datagram Protocol
• RFC 2464, Transmission of IPv6 Packets over Ethernet Networks
• RFC 2465, Management Information Base for IP version 6: Textual Conventions and General
Group
• RFC 2466, Management Information Base for IP version 6: ICMPv6 Group
• RFC 2467, Transmission of IPv6 Packets over FDDI Networks
• RFC 2470, Transmission of IPv6 over Token Ring Networks
• RFC 2472, IP version 6 over PPP
• RFC 2473, Generic Packet Tunneling in IPv6 Specification
• RFC 2507, IP Header Compression
• RFC 2526, Reserved IPv6 Subnet Anycast Addresses
• RFC 2529, Transmission of IPv6 over IPv4 Domains without Explicit Tunnels
• RFC 2545, Use of BGP-4 Multiprotocol Extensions for IPv6 Inter-Domain Routing
• RFC 2590, Transmission of IPv6 Packets over Frame Relay
• RFC 2675, IPv6 Jumbograms
• RFC 2710, Multicast Listener Discovery (MLD) for IPv6 Artikel Populer IlmuKomputer.Com
Copyright © 2005 IlmuKomputer.Com
• RFC 2711, IPv6 Router Alert Option
• RFC 1888, OSI NSAPs and IPv6
• RFC 2292, Advanced Sockets API for IPv6
• RFC 2375, IPv6 Multicast Address Assignments
• RFC 2450, Proposed TLA and NLA Assignment Rules
• RFC 2471, IPv6 Testing Address Allocation
• RFC 2553, Basic Socket Interface Extensions for IPv6

About this blog

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog